Si Bandel kini ingat rumahnya. Ingat tiang-tiang yang menyangga atapnya. Ingat tanaman segar yang meniupkan hawa sejuk dari halaman. Dan orang-orang yang berlindung di dalamnya. I am home, mama! teriak batinnya. Oh, betapa dia sudah rindu ingin memeluk dan mencium kening mamanya. Mengantarkan jahitan-jahitan ke para langganannya. dan memijiti pundak mamanya setelah letih menjahit. Walau pengeā¦