Berani karena benar" sudah tidak spesial lagi. Sekarang yang spesial adalah "ngawur karena benar". Sujiwo Tejo menghidangkan hal-hal yang spesial dalam buku ini. Bak martabak spesial, tepatnya martabat dari kengawuran yang berfondasi kebenaran. Jurus-jurus terakhir bagi kita setelah mentok pada jurus-jurus lain yang konon sistematis, santun, dan berbudi pekerti. Setelah kita endus bahwa di b…
Gathak dan Gathuk kelimpungan. Tanah Air mereka, Giri, telah tumpas diganyang Mataram. Bahkan junjungan mereka pun, Raden Jayengresmi-keturunan Sunan Giri Perapen-pergi entah ke mana. Gathak dan Gathuk galau. Mereka tak tahu harus mulai mencari dari mana. Tiba-tiba, Petruk datang di atas sekerat tempe dan tahu untuk memberi petunjuk. Mereka harus berjalan ke barat. Perjalanan mereka rupanya …
Tak malu Korupsi? Tak malu berperilaku buruk? Tak malu mencederai bangsa sendiri? Atau mungkin malu tak lagi menjadi tren? Dibuku ini, Sujiwo menulis hal-hal yang memalukan tentang persoalan negeri ini. Juga cerita tentang orang-orang yang lupa kan bangsanya, Indonesia. Dengan bahasa terselubung dan melibatkan Ponakawan, Jiwo menyentil banyak pihak dengan cerdas. menohok, Nyeleneh, tapi …
Tulisan-tulisan Sujiwo dalam buku ini sangat kritis terhadap fenomena sosial yang patut dipuji maka pujiannya sangat halus tetapi terhadap fenomena sosial yang harus dikritik maka kritiknya sangat tajam. Ekpresi kegundahan atau kegembiraan yang, antara lain, diwakili oleh ponokawan menunjukkan muatan budaya yang mengandung semuanya: cara halus, santun, dan tegas yang berintikan untuk menjernihk…
Sinta berubah. Namanya jadi Janaki. Janaki pun berubah. Namanya jadi Waidehi. Tapi, Rahwana tetap mencintainya. Rahwana tetap menjunjungnya, menyembahnya. Terhadap titisan Dewi Widowati itu ia tak menyembah nama. Rahwana menyembah Zat melalui caranya sendiri. Persembahannya secara agama cinta .... Hmmm .... Sebuah nama yang ada bukan karena dinamai. Sebuah nama yang ada juga bukan kare…