Text
Tiya: Sebuah Kisah Pencarian Makna Hidup
“Mengapa kita tidak memperlambat segalanya sedikit saja dan menikmati hidup? Terbang–hinggap–terbang. Makan–tidur–makan. Ini yang mereka sebut hidup? Seandainya mereka tahu bagaimana rasa hangatnya mentari yang menyinari bulu saat masih di tempat tidur, atau rasa sentuhan lembut angin di wajah saat mata terpejam, atau hanya merenungkan ini dan itu.†(halaman4)
Suatu ketika, ada suara tak dikenal yang menyuruh Tiya agar meninggalkan sarangnya untuk berpetualang. Nama pemilik suara itu Hans. Setelah melalui percakapan yang alot, akhirnya Tiya mengikuti saran Hans untuk pergi mencari petualangan baru dengan membawa harapan untuk sebuah perubahan yang lebih baik sesuai perkataan Hans.
Petualangan Tiya pun dimulai. Ia mengunjungi banyak tempat. Mulai dari daratan yang penghuninya burung yang berjalan dengan kaki, daratan yang isinya burung yang suka menangis, dan daratan-daratan lainnya yang penduduknya tak kalah anehnya. Karena si Tiya ini sangat cerewet dan selalu berkomentar pedas atas apa saja yang ia lihat dan alami, suka ikut campur urusan orang lain, dan suka tidak sabaran, maka ia kerap mendapatkan masalah di setiap daratan yang akhirnya merugikan dirinya sendiri. Hampir saja ia putus asa dan menyerah. Bagaimana nasib Tiya? Apakah ia berhasil kembali ke rumah Pohon Beringinnya? Bagaimana pribadi Tiya sekembali dari petualangannya? Melihat wataknya yang keras kepala, sepertinya meragukan mengharapkannya berubah
Tidak tersedia versi lain